Golongan yang sesat dalam memahami takdir

Tidak sedikit orang yang sesat dalam memahami takdir, ada yang menafikan kehendak makhluk dan ada pula kebalikannya, yang menafikan kehendak dan kekuasaan Allah. Berikut ulasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimini dalam Syarh Tsalatsatil Ushul

Ada dua golongan yang tersesat dalam memahami takdir:

Pertama:
Golongan jabariyyah, mereka mengatakan, seorang hamba terpaksa (dikendalikan) dalam perbuatan dan tindakannya, manusia tidak memiliki kehendak dan kemampuan.

Kedua:
Golongan Qodariyah, mereka mengatakan, seorang hamba mempunyai kehendak, kemauan dan keinginan tanpa ada campur tangan kehendak dan kekuasaan Allah. Hamba itu sendirilah yang menciptakan perbuatan tersebut

Jawaban bagi golongan pertama (jabariyah) dengan dalil syar’i dan. fakta adalah sebagai berikut

Adapan dalil syar’i, Allah telah menetapkan bahwa hamba-Nya memiliki kehendak dan kemampuan dan Ia sandarkan hasil perbuatan hamba itu kepada dirinya sendiri

Firman Allah:”Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara. kamu ada orang yang menghendaki akhirat.” (Ali Imran:152).

Firman-Nya:”Dan katakanlah, Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zhalim itu Neraka yang gejolaknya mengepung mereka.” (Al-Kahfi: 29).

Dan firman-ya juga,”Barangsiapa mengerjakan amal shalih maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri dan sekali-sekali Tuhanmu tidaklah menganiaya hamba-hambaNya.” (Fushshilat: 46).

Dalam kenyataan yang sebenarnya manusia mampu membedakan antara perbuatan yang ia kehendaki seperti makan, minum, jual beli dengan perbuatan yang di luar kehendaknya seperti gemetar karena demam, jatuh dari atap dan sebagainya. Yang pertama ia lakukan dengan kesadaran dan kehendaknya tanpa paksaan dan yang kedua di luar kesadaran, kehendak dan keinginanya

Adapun jawaban bagi golongan kedua (Qadariyah) dengan dalil syar’i dan aqli.

Dalil syar’i, bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan segala sesuatu ada dan terwujud atas kehendak Allah. Dan Allah telah menjelaskan dalam al-Qur’an bahwa semua perbuatan hamba-Nya terjadi atas kehendak-Nya

Firman Allah:”Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidak berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, niscaya mereka tidak berbunuh-bunuhan akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Baqarah: 253).

Firman-Nya:”Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami akan berikan tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi)nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) dari-Ku, sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahanam itu dengan jin dan manusia” (Sajdah:13).

Adapun secara fakta, bahwa seluruh alam dan isinya adalah milik Allah dan manusia adalah bagian dari alam tersebut, mereka juga termasuk dalam pemilikan Allah. Oleh karena itu tidak mungkin mereka melakukan sesuatu tanpa izin dan kehendak pemiliknya.

Diambil dari Syarh Tsalatsatil Ushul, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

©copyleft 2001-2006 Perpustakaan-Islam.Com

~ by medya1988 on February 10, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: